Cinta
Dalam Bayangan
Di sudut kedamaian ia datang. Aku tak mengenalnya memang. Namun entahlah
dari mana dia mengenaliku. Aku memang paham wajahnya, namun aku tak paham
suaranya. Dia menghubungiku lewat pesan. Dan Facebook lah yang mengakrabkan dua
insan.
Akhir pekan lalu, kami berjumpa disela-sela pagi yang menjerit. Ia
menatapku, hingga membuatku terkesipu malu membalas tatapannya. Aku terus
melangkah didepannya, melawatinya, dan berpura-pura tak melihatnya. Tiba-tiba
spontan waktu menghentikan langkah kakiku. Aku memutar wajahku dan mulai
menatapnya.
Dia dingin. Tatapannya menusuk. Senyumnya merajut. Mulutnya membisu. Dan
mungkin hatinya membeku. Matanya liar menatap mataku ketika aku membalikkan
wajahku membalas tatapannya. Jantungku langsung berdegup. Sakit. Seolah aku
telah menginjakkan kaki di tepi jurang penuh api. Nyaris tergelincir. Entah
mungkin aku mulai tertarik padanya.
Aku diam. Ketika aku sadar telah masuk kedalam lingkar markas syaitan,
darahku meledak ingin keluar. Inilah hal yang mengerikan. Semua manusia tak
mengenal Tuhan. Memang semuanya hanya sekedar memandang. Namun hal itu
menandakan aku mendadak jatuh cinta padanya. Rakus bukan kepalang. Dan aku,
mulai menggigil ketakutan. Semakin ketakutan.
Setiap hari, setiap detik, setiap waktu, aku terbayang-bayang oleh
wajahnya. Ia selalu hadir dimimpiku. Dan aku mulai memikirkannya. Terus-menerus
memikirkannya. Lucu memang, aku memikirkannya namun belum tentu juga ia
memikirkanku. Cukup ku akui ia datang ke dalam hidupku tak diundang, dan ia pergi
tak berpesan.
Aku kesepian. Kisah ini tak lanjut berjalan. Bagaikan bara api yang
memadam. Ia berubah. Seiring waktu terus berjalan, semakin jarang ia
menghubungiku lagi. Tak biasanya ia mengabaikan rasa simpatiku seperti ini.
Mungkin aku sudah tak terbaca lagi di lembaran harinya. Benar-benar berubah.
Rasanya perih tak bermakna. Seperti kayu yang terbakar dan merapuh.
Kemarin, esok, hingga lusa, rasanya aku ingin menyapanya ketika kami
berjumpa. Tapi hatiku tak mengizinkannya, karna aku bukanlah tipe wanita
pengagung rasa malu. Dan terlebih lagi aku memikirkan dimana letak harga diri
seorang wanita.
Mungkin ia berfikir ini hanyalah permainan semata, namun aku lah yang
terlalu tanggap menanganinya. Aku tak masalah mengenal seseorang. Tapi bagiku
ini adalah masalah hati dan kepekaan. Dimana aku tak mudah melupakan seseorang
dan untuk memulihkannya aku harus membutuhkan waktu yang cukup lama.
Malam. Kau sangat kental denganku. Kau adalah hidupku. Kau teman sepiku.
Kau tersenyum misteri padaku. Dan aku berharap kau mendengar satu pintaku.
Malam. Katakan pada Tuhan. Bisikkan pada-Nya. Kalau aku sangat mencintainya.
Dan aku merindukannya.
Bibirku memang tersenyum. Tapi hatiku menjerit. Aku butuh keadilan. Aku
ingin kebebasan. Aku ingin dia menghubungiku dan memberikan ku kepastian.
Bagiku setiap hari adalah mimpi buruk. Dimana hari-hariku tak punya teman.
Jam dinding terus tertawa sinis menatapku. Mereka terdengar saling
berbisik-bisik menggunjingku. Jarum panjang menatap menghina dina diriku. Jarum
yang pendek terus menangis melihatku. Angka satu menatapku ragu. Angka dua
menatapku sayu. Angka tiga menatapku cemburu. Angka empat menatapku malu.
Hingga angka lima mengejutkanku. Air mataku jatuh menetes membanjiri pipiku.
Aku menyadari aku telah menunggu seseorang yang tak pasti. Lama waktu yang
terbuang untuk menantinya, semua hanyalah sia-sia. Mungkin takdir tak merestui
dan operator lah sebagai buktinya.
Aku telah berdosa memikirkannya, dan aku mengharapkannya. Hanya untuk
hal-hal yang tak berguna. Aku larut dalam angan-angan. Membayangkan sebuah
cambuk yang telah lama siap melucuti punggungku. Duri-duri beracun siap
bercokol ditelapak kakiku. Rasanya perih, namun harus aku lewati. Tuhan Maha
Pengasih.
Sebelumnya memang, aku telah salah mengartikan apa makna cinta, bagiku
cinta adalah kebohongan, mungkin hanya sebuah mitos belaka yang tak dapat di
buktikan dengan suatu realita. Tapi kini aku sadar, cinta ini tak harus
memiliki. Dan aku mulai memahami apa makna cinta yang sesungguhnya. Cinta
adalah ketika aku menyayangi seseorang tanpa pernah berharap perasaan ini
terbalas. Cinta adalah tentang pembuktian, bukan hanya deretan kata-kata
gombal. Cinta itu seperti langit mencintai bintang. Cinta bagaikan sang
penerang. Tapi bukan berarti lampu pijar. Namun Cinta yang kumiliki ini
hanyalah ada pada bayangan pedih yang kini ku rasakan. Apalah arti cinta jika
langit tak berbintang. Dan apalah arti cinta ini jika aku hanya dapat
menggapainya di mimpi saja. Cinta dalam bayangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar