Rabu, 25 Juni 2014

Diary Gue


Cinta Dalam Bayangan
Di sudut kedamaian ia datang. Aku tak mengenalnya memang. Namun entahlah dari mana dia mengenaliku. Aku memang paham wajahnya, namun aku tak paham suaranya. Dia menghubungiku lewat pesan. Dan Facebook lah yang mengakrabkan dua insan.
Akhir pekan lalu, kami berjumpa disela-sela pagi yang menjerit. Ia menatapku, hingga membuatku terkesipu malu membalas tatapannya. Aku terus melangkah didepannya, melawatinya, dan berpura-pura tak melihatnya. Tiba-tiba spontan waktu menghentikan langkah kakiku. Aku memutar wajahku dan mulai menatapnya.
Dia dingin. Tatapannya menusuk. Senyumnya merajut. Mulutnya membisu. Dan mungkin hatinya membeku. Matanya liar menatap mataku ketika aku membalikkan wajahku membalas tatapannya. Jantungku langsung berdegup. Sakit. Seolah aku telah menginjakkan kaki di tepi jurang penuh api. Nyaris tergelincir. Entah mungkin aku mulai tertarik padanya.
Aku diam. Ketika aku sadar telah masuk kedalam lingkar markas syaitan, darahku meledak ingin keluar. Inilah hal yang mengerikan. Semua manusia tak mengenal Tuhan. Memang semuanya hanya sekedar memandang. Namun hal itu menandakan aku mendadak jatuh cinta padanya. Rakus bukan kepalang. Dan aku, mulai menggigil ketakutan. Semakin ketakutan.
Setiap hari, setiap detik, setiap waktu, aku terbayang-bayang oleh wajahnya. Ia selalu hadir dimimpiku. Dan aku mulai memikirkannya. Terus-menerus memikirkannya. Lucu memang, aku memikirkannya namun belum tentu juga ia memikirkanku. Cukup ku akui ia datang ke dalam hidupku tak diundang, dan ia pergi tak berpesan.
Aku kesepian. Kisah ini tak lanjut berjalan. Bagaikan bara api yang memadam. Ia berubah. Seiring waktu terus berjalan, semakin jarang ia menghubungiku lagi. Tak biasanya ia mengabaikan rasa simpatiku seperti ini. Mungkin aku sudah tak terbaca lagi di lembaran harinya. Benar-benar berubah. Rasanya perih tak bermakna. Seperti kayu yang terbakar dan merapuh.
Kemarin, esok, hingga lusa, rasanya aku ingin menyapanya ketika kami berjumpa. Tapi hatiku tak mengizinkannya, karna aku bukanlah tipe wanita pengagung rasa malu. Dan terlebih lagi aku memikirkan dimana letak harga diri seorang wanita.
Mungkin ia berfikir ini hanyalah permainan semata, namun aku lah yang terlalu tanggap menanganinya. Aku tak masalah mengenal seseorang. Tapi bagiku ini adalah masalah hati dan kepekaan. Dimana aku tak mudah melupakan seseorang dan untuk memulihkannya aku harus membutuhkan waktu yang cukup lama.
Malam. Kau sangat kental denganku. Kau adalah hidupku. Kau teman sepiku. Kau tersenyum misteri padaku. Dan aku berharap kau mendengar satu pintaku. Malam. Katakan pada Tuhan. Bisikkan pada-Nya. Kalau aku sangat mencintainya. Dan aku merindukannya.
Bibirku memang tersenyum. Tapi hatiku menjerit. Aku butuh keadilan. Aku ingin kebebasan. Aku ingin dia menghubungiku dan memberikan ku kepastian.
Bagiku setiap hari adalah mimpi buruk. Dimana hari-hariku tak punya teman. Jam dinding terus tertawa sinis menatapku. Mereka terdengar saling berbisik-bisik menggunjingku. Jarum panjang menatap menghina dina diriku. Jarum yang pendek terus menangis melihatku. Angka satu menatapku ragu. Angka dua menatapku sayu. Angka tiga menatapku cemburu. Angka empat menatapku malu. Hingga angka lima mengejutkanku. Air mataku jatuh menetes membanjiri pipiku. Aku menyadari aku telah menunggu seseorang yang tak pasti. Lama waktu yang terbuang untuk menantinya, semua hanyalah sia-sia. Mungkin takdir tak merestui dan operator lah sebagai buktinya.
Aku telah berdosa memikirkannya, dan aku mengharapkannya. Hanya untuk hal-hal yang tak berguna. Aku larut dalam angan-angan. Membayangkan sebuah cambuk yang telah lama siap melucuti punggungku. Duri-duri beracun siap bercokol ditelapak kakiku. Rasanya perih, namun harus aku lewati. Tuhan Maha Pengasih.
Sebelumnya memang, aku telah salah mengartikan apa makna cinta, bagiku cinta adalah kebohongan, mungkin hanya sebuah mitos belaka yang tak dapat di buktikan dengan suatu realita. Tapi kini aku sadar, cinta ini tak harus memiliki. Dan aku mulai memahami apa makna cinta yang sesungguhnya. Cinta adalah ketika aku menyayangi seseorang tanpa pernah berharap perasaan ini terbalas. Cinta adalah tentang pembuktian, bukan hanya deretan kata-kata gombal. Cinta itu seperti langit mencintai bintang. Cinta bagaikan sang penerang. Tapi bukan berarti lampu pijar. Namun Cinta yang kumiliki ini hanyalah ada pada bayangan pedih yang kini ku rasakan. Apalah arti cinta jika langit tak berbintang. Dan apalah arti cinta ini jika aku hanya dapat menggapainya di mimpi saja. Cinta dalam bayangan.